Sang Pembalap
Rendi pagi itu nampak masih suram dan tampak sedikit kusut setelah tadi malam ia pulang cukup larut malam.
Mimik wajah remajanya menggambarkan ia sedang pusing karena sedikitnya ia ikut sibuk mengurusi jenazah Rudi, teman dekatnya yang tewas dalam balapan mobil liar tadi malam.
Untuk yang kesekian kalinya, ia harus kehilangan teman di arena itu. Ikut balapan liar memang taruhan yang cukup besar. bahkan Nyawa bisa melayang.
"Ren, sekarang saat yang tepat buat kamu berhenti balapan liar dan mencoba belajar yang lebih positif, " kata ayahnya seolah paham dengan perasaan anak sulungnya itu.
Tanpa Rendi bercerita tentunya Budi sangat memahami perasaan Rendi yang harus kehilangan teman dekatnya itu.
"Cobalah kamu buka usaha Bengkel, susul ayahnya lagi.
"Bukannya tidak mau, tapi usaha itu kan butuh modal dan pengalaman," jawab Rendi sekenanya.
"Kamu kan bisa jual mobil balap mu itu. Daripada dipakai balapan liar melulu, " celetuk Narti, ibunya ikut nimbrung.
"Untuk pengalaman, kamu bisa belajar dari siapa saja," tambah Narti.
"Oya, Antok kemarin telpon ia mau pulang kampung, sekalian menengok Mbah Kakung dan Mbah putri, kata ayah Rendi menimpali.
"Ia juga nanyain kamu sudah lulus sekolah apa belum," tambah Budi, ayahnya Rendi yang tampak awet muda di usianya yang menginjak usia empat puluh lima itu.
Sebagai anak muda yang baru menginjak usia delapan belas tahun, Rendi bukannya tak punya ide atau minat untuk kuliah atau bekerja, hanya saja ia belum menemukan momen yang tepat untuk berhenti dari arena balap liar.
Sejatinya, belakangan ini Rendi justru mulai bosan dengan rutinitasnya itu. Ada rasa khawatir dalam dirinya akan keselamatan nyawanya mengingat sering kali terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa.
Ini mungkin saat yang tepat bagi rendi untuk mulai keluar dari kehidupan jalanannnya. Kejadian ini nampaknya bisa jadi penanda dirinya untuk mencoba hal baru.
"Yah mungkin aku harus cari suasana lain dulu batin Rendi teringat ucapan ayahnya akan kedatangan Antok, sepupunya dari kota Malang itu.
Sebagai saudara, Rendi tentunya sudah sering bertemu Antok saat pulang kampung. Dimata Rendi, Antok adalah sosok saudara yang baik dan cukup royal dalam membelikan sesuatu kepada dirinya maupun kepada keluarga besar mereka.
Diketahui Antok juga sering membawakan nenek dan kakek barang barang yang bagus dan mahal.
Rendi pun masih teringat dan sangat terkesan dengan hadiah jam tangan yang cukup bermerek pemberian Antok dan istrinya Lily saat mereka berkunjung pada lebaran tahun kemarin.
"Yah nampaknya Antok cukup sukses usaha di kota istrinya itu," batin Rendi.
Jika memang ia barangkali ia bisa belajar usaha dari kakak sepupunya itu.
Dan lagipula ia sudah cukup bosan hidup dan bergaul di kampung nya yang cuma itu itu saja.
Yah tak ada salahnya mencoba ikut mereka kalaupun memang ada rencana jadi diajak mereka.
"Aku bisa menggaji kamu dengan upah UMR," canda Antok menatap Rendi yang tampak sedang berpikir dan mempertimbangkan tawarannya.
"Ah bukan begitu mas, aku cuma masih berpikir untuk.. "
"Atau kamu gak mau jauh dari pacar ya?" celetuk Antok lagi sambil tersenyum lebar.
"Ah aku belum punya pacar kok mas," kata Rendi agak malu.
"Disana juga banyak cewek kok Ren," ujar Lily ikut menggoda Rendi yang nampak masih ragu.
"Ah embak..aku serius kok gak mikirin itu jawab Rendi tambah malu. Ia selama ini sering digoda sebagai Jomblo karena tak miliki pacar.
Meskipun ia memiliki wajah yang cukup tampan, tapi ia memang tak begitu pandai dan berani dalam hal mendekati perempuan. Tapi Rendi merasa baik baik saja.
Ia masih tetap nyaman dengan kejombloannya.
Bukan tak ada gadis yang menarik perhatiannya.
Sebenarnya juga sangat menaruh hati pada seorang gadis, intan namanya. Intan merupakan teman ketika SMP dulu.
Namun sikap intan yang hati hati dalam bergaul dengan Rendi membuat Rendi urung untuk mengatakan segala harapannya.
Rendi pun memilih menjomblo daripada harus sakit hati karena ditolak cinta.
"Kalau oke, ibu akan siapkan keperluan kamu kata ibunya seolah ikut menyatakan dukungannya.
Rendi pun merasa terpojok, dan merasa gak punya cukup alasan untuk menolak ajakan Antok dan Lily itu.
"Yah mungkin ini saatnya aku untuk merasakan merantau," bisik hatinya.
Iming iming akan menerima bayaran dan kebaikan sikap Antok dan Lily adalah modal yang cukup menarik untuk mengikuti ajakan mereka. Sekalian mencoba dunia kerja.
Terlebih Antok, ia adalah kakak sepupu yang sudah Rendi anggap sebagai kakak sendiri karena kebaikannya selama ini.
"Baiklah, aku mau ikut," kata Rendi pelan namun pasti.
"Hore, om Rendi jadi ikut! teriak Cindi tampak senang mengetahui Rendi jadi ikut dengan mereka.
Cindi selama ini selalu senang jika diajak bermain Rendi. Selama mereka berkunjung di sana, Cindi sering minta diantar Rendi jalan-jalan.
Tiba harinya mereka pun berangkat ke kota Malang dengan membawa Rendi turut serta.
Segala persiapan dan bekal makanan, tak lupa jajanan jenang dibuatkan Narti untuk bekal dijalan dan oleh oleh khas kota mereka.
"Kamu mau di depan ren?" Tanya Antok menawarkan Rendi untuk mengemudi.
"Iya mas nanti gantian saja."
"Kamu sudah punya SIM ren?" Tanya Lily.
"Belum sih .."
" Pembalap tuh gak perlu SIM Bun," potong Antok seraya tertawa.
Maksudnya hanya meyakinkan Lily yang terlihat sedikit meragukan Rendi.
"Iya iya, jawab lili seraya tersenyum."
Mobil innova warna hitam itu pun berangkat menuju kota Malang.

